Lifetime Commitment to Dharma
|
HUBUNGI KAMI Jika Anda ingin bersinergi dengan Ehipassiko Foundation atau untuk mendapatkan produk dan layanan kami, silakan hubungi: Ehipassiko Foundation Taman Permata Buana, Jl. Pulau Bidadari II-17 Puri Kembangan, Jakarta Barat 11610 Telp: 085888503388 Faks: 0215818816 E-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it Anda juga bisa menuliskan pesan Anda di bawah ini, kami akan segera menjawab pesan Anda. Ehipassiko adalah yayasan nirlaba nirsektarian yang mulai berkarya sejak tahun 2002 dalam bidang PENERBITAN, PENDIDIKAN, dan PELATIHAN Dharma. Ehipassiko disahkan dengan Akta Pendirian Yayasan no. 01/ 1 Sep 2008 di Tangerang.
Produk Ehipassiko tersedia di toko buku, bursa wihara, dan stokis/agen di seluruh Indonesia, serta bisa pula dipesan melalui e-mail atau sms. Ehipassiko adalah salah satu pemrakarsa pembentukan dan moderator Forum Publikasi Buddhis Indonesia. 2. Pendidikan Ehipassiko berkontribusi dengan menerbitkan Buku Pelajaran Agama Buddha untuk SD-SMP-SMA. Ehipassiko juga menyediakan tenaga pengajar Dharma berbahasa Inggris untuk sekolah internasional dan national-plus. 3. Pelatihan Ehipassiko gencar menggelar retret, kursus, seminar, dan ceramah Dharma di seluruh Indonesia dengan narasumber nasional maupun internasional. KEMITRAAN Dalam Negeri: semua sanggha & majelis agama Buddha, Indonesia Tipitaka Centre, Tzu Chi, SIDDHI, BFI, BEC, Karaniya, Manggala, Serlingpa Dharmakirti, Janitra, Joky, Elex Media, Penebar, TIKI, Pos, Stokis se-Indonesia, dll. Luar Negeri: Wisdom USA, Laotian NZ, Parallax Press USA, Kong Meng San SIN, Viriya SIN, Leow Liang SIN, Wisdom Sutra SIN, BPS SLK, Mingun Tipitakadhara MYM, Sun Lun MYM, dll. SANGGAR INGGRIYA & STAF Sebagai wujud komitmen dan kompetensi, Ehipassiko beroperasi dengan mengelola sanggar inggriya dengan staf penuh/paruh-waktu yang terdiri dari para penulis, penerjemah, penyunting, perancang grafis, ilustrator, akuntan, logistik, ekspedisi, dan admin. ARTI LOGO
SERVE TO BE PERFECT, BE PERFECT TO SERVE Etos kerja Ehipassiko ini diturunkan dari teladan Bodhisattwa (Bakal Buddha) dalam memenuhi Paramita (sifat sempurna) sampai menjadi Buddha. Prinsip ini juga merupakan cara hidup sejati dalam mengarungi samudra sangsara (siklus kehidupan dan kematian) yang mahalama ini. Aku bertekad menjadi obat bagi yang sakit. Aku bertekad menjadi makanan bagi yang kelaparan. Aku bertekad menjadi pelindung bagi yang takut. Aku bertekad menjadi suaka bagi yang dalam bahaya. Aku bertekad menjadi penyejuk bagi yang murka. Aku bertekad menjadi pemandu bagi yang tersesat. Aku bertekad menjadi bahtera bagi yang menyeberang. Aku bertekad menjadi pelita bagi yang dalam gulita. Biarlah sepanjang masa, saat ini dan selamanya, aku melayani, untuk menjadi sempurna, aku menjadi sempurna, untuk melayani. DHARMA UNIVERSAL "Dharma itu hanya satu, bukan banyak. Pembedaan muncul karena kepentingan orang-orang yang tidak tahu." (Seng-Ts'an, Sesepuh Zen Ketiga) Ehipassiko adalah lembaga non-sektarian yang menghormati keragaman tradisi dan budaya Buddhis, bahkan non-Buddhis sekalipun. Ehipassiko mengacu pada prinsip-prinsip Dharma Universal (baca: Kebenaran Universal) yang bukan milik eksklusif individu atau kelompok tertentu. Kebenaran tidaklah diskriminatif; kebenaran adalah "bagai sang surya menyinari dunia", tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih. "Perbedaan" itu "beda" dengan "pembedaan" "Perbedaan" seyogianya tidak dipandang sebagai alasan "pembedaan". Perbedaan atau keragaman adalah suatu sifat alamiah dari jagad raya ini, yang telah ada, masih ada, dan akan selalu ada. Pelangi akan selalu berwarna-warni. Bukankah di situlah indahnya pelangi? Lain halnya dengan "pembedaan". Pembedaan timbul karena pikiran yang diskriminatif, yang dualistik, yang melekat pada konsep baik-buruk, menang-kalah, untung-rugi, suka-tidak suka. Sikap pembedaan dan kelekatan ini berakar dari ketidaktahuan (moha), dan dengan cepat akan terpupuk menjadi dualisme ketamakan (lobha) dan kebencian (dosa). Betapapun tampak baiknya atau terasa nikmatnya, sayangnya, "pembedaan" ini tidak akan membawa kita pada kedamaian dan kebahagiaan sejati. Dalam tingkat ekstrem, pikiran yang diskriminatif dan melekat ini justru akan mendatangkan penderitaan, entah itu disadari atau tidak, diakui atau tidak. Inilah salah satu contoh Kebenaran Universal: "Kelekatan membawa derita." Believe it or not? Ehipassiko! Bhinneka Tunggal Ika Masihkah kita ingat semboyan Ibu Pertiwi yang pernah kita hafalkan sejak kecil ini? Semoga kita tidak hanya menganggapnya sebagai sekadar hiasan dinding di bawah gambar burung. Bukan main-main, ini adalah semboyan negeri tercinta ini! Semboyan ini dikutip dari sebuah puisi Jawa Kuno dari Kitab Sutasoma karya Mpu Prapanca yang hidup pada abad ke-14 di Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu, puisi ini dibuat untuk menggambarkan toleransi antara pemeluk ajaran Buddha dan Hindu. Kutipan lengkapnya adalah: Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. (Arti harfiah: "mereka memang berbeda, namun mereka adalah sama, karena Kebenaran adalah satu".) Secara singkat, Bhinneka Tunggal Ika ini berarti "biarpun berbeda tetapi tetap satu Dharma". Keragaman adalah suatu/satu kebenaran, biarpun kita semua berbeda, tetapi pada hakikatnya kita adalah satu. Semangat ini pulalah yang menjadi dasar toleransi (dasar menyikapi perbedaan) dalam segenap aspek kehidupan. Perbedaan adalah hakikat kehidupan sepanjang masa. Masihkah pikiran kita akan "membeda-bedakan" atau mempertanyakan lagi kenapa kita "berbeda"? Segala sesuatu memang berbeda, tetapi justru itulah "kesamaannya", itulah "kesatuannya". Inilah contoh lain Kebenaran Universal: "We are One," demikian kata Simba dalam Lion King 2. We are one: semua ingin berbahagia Ada satu kesamaan di antara kita semua, semua makhluk hidup di jagad raya ini, besar atau kecil, tampak atau tak tampak, manusia atau hewan, tanpa terkecuali. Semua tidak ingin menderita. Semua ingin bahagia! Lagi-lagi contoh Kebenaran Universal: "Semua ingin bahagia." Kalau kita renungi baik-baik, layakkah kita membenci, menganiaya, merugikan, bahkan membunuh makhluk lain? Keinginan untuk bahagia, tidak diragukan lagi telah menjadi tenaga penggerak utama (kalau bukan satu-satunya) seluruh roda kehidupan. Namun sayang, dalam memenuhi naluri dasar ini lagi-lagi karena ketidaktahuan-kita tersilaukan, terjebak, dan tersesat. Kita berbuat ini dan itu dengan alasan demi kebahagiaan, namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan sejati, kita malah ikut menuai rasa cemas dan menderita. Dalai Lama mengatakan, "Penderitaan adalah faktor paling dasar yang sama-sama kita alami dengan makhluk lain. Inilah faktor yang mempersatukan kita dengan semua makhluk hidup." Inilah semangat yang seharusnya mempersatukan kita semua: semua ingin bahagia! Prinsip Pelayanan Dharma Universal Di dalam mewujudkan visi dan misinya, Ehipassiko berpegang pada prinsip sebagai berikut:
Dharma Universal merupakan "esensi" dari segala ajaran. Namun, dengan adanya begitu banyak pandangan dan tradisi, bagaimana kita bisa menemukan esensi yang dimaksud? Berikut adalah pendekatan yang disarankan:
Ketaklekatan Di dalam ajaran Buddha, ada satu benang merah yang mempersatukan berbagai tradisi dan pengalaman kebebasan. Benang merah pemersatu tersebut adalah ketaklekatan (anupadana). Semua tradisi Buddhis mengakui bahwa kelekatan adalah sumber penderitaan; kelekatan adalah hambatan bagi kelepasan sejati dan kebahagiaan mutlak. Tiga jenis kelekatan mendasar adalah kelekatan terhadap kesenangan indrawi (kama), pandangan (ditthi), dan konsep diri (atta). Buddha berkata: "Wahai para Bhikkhu, bahkan pandangan ini, yang demikian murni dan demikian jelas, jika engkau terikat padanya secara berlebihan, jika engkau terlalu membanggakannya, jika engkau terlalu menghargainya, jika engkau melekat padanya, engkau tidak mengerti bahwa ajaran itu serupa dengan sebuah rakit yang dipakai untuk menyeberang, bukannya untuk dilekati erat-erat." (M.I. 260; Miln. 316) Ketaklekatan adalah gerbang menuju penembusan Dharma Universal! LOVE YOU Motto ini punya 2 arti:
Love You... |
© 2009 Ehipassiko Foundation